Social Icons

Pages

Senin, 09 Maret 2015

Busana Muslim, Antara Gaya dan Akidah

Yuli Rizcawati, manajer komunikasi sebuah perusahaan retail busana impor, selama Ramadan ini punya penampilan berbeda. Dulu, setiap bertemu dengan klien, perempuan setengah baya berparas manis tersebut selalu mengenakan busana seksi dengan rok pendek, kemeja tanpa lengan, atau dalaman model kemben berpadu blazer. Kini, ia lebih banyak mengenakan celana panjang, kemeja, atau atasan berlengan panjang dan sesekali memakai tunik. Rambutnya yang dulu hitam terurai sekarang tertutup kerudung, meski belum dengan jilbab secara keseluruhan.
Busana Muslim, Antara Gaya dan Akidah


"Ramadan begini, aku seperti mendapat hidayah untuk memperbaiki penampilan. Tidak lagi berbusana seksi terbuka, tapi mulai tertutup. Aku ingin berbusana sesuai kaidah atau aturan Islam, namun di sisi lain tetap ingin gaya. Semuanya mesti perlahan, tidak bisa drastis," ujar Yuli.

Lain lagi dengan cerita model senior Henidar Amroe yang kini berkerudung. Keputusannya berbusana tertutup, selain menjalankan perintah berbusana sesuai dengan pakem, didasari landasan syar'i atau kaidah tentang busana yang disunahkan Nabi Muhammad SAW.

"Dengan berbusana muslim, setidaknya secara pribadi ingin lebih baik lagi. Di sisi lain, saya tetap bisa gaya karena busana muslim sekarang beragam dan fashionable," ujar Henidar yang bermain di sinetron Para Pencari Tuhan.

Sebelum turun perintah memakai jilbab bagi perempuan, mereka mempunyai kebiasaan memakai kerudung, yaitu penutup kepala yang diuraikan ke punggung hingga leher dan kedua bagian telinganya terbuka. Gangguan sering menimpa para perempuan ini sepulang dari kerja di kebun kurma.

Surat Al-Ahzab ayat 59 berbunyi, "Wahai Nabi, katakanlan kepada para istrimu dan anak-anak perempuanmu, serta para perempuan mukmin agar mereka mengulurkan jilbabnya. Sebab, yang demikian itu akan membuat mereka lebih mudah dikenali sehingga terhindar dari perlakuan tidak sopan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang."

Selain surat tersebut, ada banyak lagi surat dan hadis yang menguatkan penggunaan jilbab dan busana tertutup ini. Di Indonesia, awalnya penggunaan jilbab atau busana muslim tidak terlalu dikenal. Sejak zaman dulu, biasanya hanya selendang yang diletakkan di atas kepala untuk menutupi rambut dan sanggul atau selendang yang disampirkan ke pundak. Pemakainya biasanya para perempuan

"Berbusana menurut Islam harus sesuai kaidah atau aturan, tapi yang saya perhatikan kini busana muslim memiliki banyak pilihan dan mengikuti perkembangan mode. Enggak apa-apa bergaya, asalkan sesuai kaidah," ujar Ustad K.H. Zuhri Yacub.

Menurut Ketua Tanfidz Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Jakarta Barat ini, selama berbusana muslim tidak mengabaikan landasan etika, yakni kaidah atau aturan tadi, maka beragam gaya dan pilihan merupakan hal yang wajar.

Sementara itu, Ida Royani, mantan artis dan penyanyi 1970-an, tercatat sebagai salah satu pelopor dan perancang busana muslim. Bukan sekadar baju longgar, Ida pun merancang busana modern yang dibuat berdasarkan ilmu agama yang dipelajarinya. "Orang melihat apa yang saya pakai aneh, apalagi saat pesta tidak ada satu orang pun yang memakai baju muslim," ujarnya.

Ida mengisahkan, pada awal 1980-an, ia tak sekadar mengenakan baju muslim untuk dirinya sendiri, tapi juga menjual rancangannya ke berbagai mal. Selain busana muslim untuk perempuan, dia juga merancang baju koko, busana muslim pria. Dengan faktor figur publik, setiap busana yang Ida kenakan berpengaruh terhadap khalayak. Pada pertengahan 1980-an, melalui rancangan dan rutin mengikuti berbagai peragaan busana, dia kembali menjadi sorotan media internasional.

Kini, tak dimungkiri bahwa busana muslim dikenal luas. Para perancangnya melihat peluang ini sebagai bisnis yang berkembang pesat. Seperti di Pasar Tanah Abang, kita bisa menjumpai aneka busana ini dengan berbagai pernak-pernik dan duplikasi. Bahkan, Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia memiliki divisi busana muslim untuk menampung ide-ide para perancangnya.

Amy Atmanto, perancang dan pemilik butik Royal Kaftan, mengatakan busana muslim kini fashionable. "Yang perlu diingat, landasan atau kaidahnya. Soal gaya boleh saja, asalkan sesuai pakemnya tadi," kata Amy yang percaya bahwa busana muslim mencuri perhatian kalangan nonmuslim, seperti busana panjang bersiluet longgar yang bisa dikenakan sebagai busana pesta koktail dan jamuan makan malam.

Adapun perspektif muslimah dengan busana jadul (zaman dulu) dan konvensional mulai terkikis oleh ragam busana muslim dengan modifikasinya. Sekarang, menjadi muslimah yang cantik, berbusana fashionable, dan lebih bergaya, tapi tetap sesuai dengan kaidah, bisa dilakukan kapan dan di mana saja. Astri Ivo menunjuk Ida Royani sebagai pionir busana muslim modern. "Dia (Ida) membuat busana dengan ilmu agama dan tetap indah," ujar Astri, mantan bintang cilik.

Astri yang kini berkerudung melihat busana muslim sudah menjadi fenomena dan budaya mode. Menurut dia, busana muslim, apa pun modelnya, tetap harus memenuhi kaidah, tidak memperlihatkan lekuk tubuh, tidak tipis atau menerawang, tidak menyerupai laki-laki, serta yang paling penting menutup aurat, kecuali muka dan telapak tangan. "Apa pun modelnya, kalau sudah memenuhi syariah, silakan saja," ujar Astri yang kini aktif mensiarkan tentang jilbab.

Menurut dia, perkembangan busana muslim dan kerudung sangat pesat sejak 1980-an. Mulai kerudung segi panjang hingga bergerak pada era bergo yang biasa dikenakan saat umrah atau naik haji. Bergo yang santai dan simpel yang semula dipakai untuk ke masjid saat umrah atau haji justru menjadi mode.

Setelah itu, mulai muncul mode dengan modifikasi tali dan bunga-bunga. Belakangan, muncul era pasmina dan aneka lilitan ala kerudung Timur Tengah. Dalam dua-tiga tahun ini, busana muslim dan kerudung semakin beragam dan banyak pilihan. Menurut Astri, modifikasinya semakin banyak dan orang tidak takut melakukan padu padan. 

HP | DIAN YULIASTUTI | BERBAGAI SUMBER

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
indahBLog