Social Icons

Pages

Featured Posts

Kamis, 27 April 2017

Wahai, Suami.. Berikanlah Uang Perawatan Wajah Pada Istrimu. Ini Alasannya..

Wahai, Suami.. Berikanlah Uang Perawatan Wajah Pada Istrimu. Ini Alasannya..

Dear Ayah Bunda, 

Suami yang shaleh pasti paham bahwa setiap kebutuhan istrinya merupakan tanggungjawabnya, apalagi Rasulullah telah memberi indikasi bahwa sebaik-baiknya seorang lelaki adalah ia yang paling baik memperlakukan istrinya.

Dengan demikian, tak seharusnya suami protes jika istri memerlukan budget untuk perawatan wajah tiap bulannya, bukankah kecantikan istri akan menjadi kebahagiaan suami pula?

Catatan untuk istri, jangan membebani suami dengan produk perawatan wajah yang harganya di luar jangkauan finansial suami! Yang sewajarnya saja, yang penting istri berkewajiban menjaga kecantikan agar prima dalam melayani suami tercinta.

Berikut ini beberapa alasan mengapa suami perlu mengalokasikan dana perawatan wajah untuk istri:

1. Kecantikan istri merupakan tanggungjawab suami

Kalau istri tampak kucel, kumel, baik di luar apalagi di dalam rumah, tolong suami melakukan introspeksi karena bisa jadi penyebab 'kekumuhan' penampilan istri adalah karena suami tak peduli istri terlalu lelah mengurus rumah, keluarga, atau bahkan terlalu capek bekerja.

2. Banyak perempuan di luar sana yang terlihat jauh menarik daripada istri karena mereka punya waktu dan biaya untuk merawat wajah.

Sudahkah memberikan waktu dan biaya perawatan untuk istri Anda?

Bahkan perempuan yang tak memakai make up sekalipun, jika terlihat begitu bening, tandanya ia melakukan perawatan wajah. Minimal memakai herbal seperti madu, minyak zaitun, buah-buahan, dan maksimalnya menggunakan alat kecantikan atau jasa salon muslimah yang harganya lumayan.

3. Setiap wanita ingin terlihat muda dan cantik, terutama di hadapan suaminya

Suami perlu menyadari bahwa istri sangat sedih jika dirinya tak percaya diri melihat cermin.

Entah karena badannya yang kini melar, rambut tak terurus, apalagi perawatan wajah... Mana sempat? Urusan rumah dan anak menyita begitu banyak pikiran, tenaga dan waktu

Tenanglah wahai istri, semua ini adalah tanggung jawab suami Anda. Tak perlu sedih apalagi menyalahkan diri sendiri untuk masalah 'sepele' ini. Jika ada yang berkata tidak enak, tinggal sampaikan pada suami dan ingatkan ia bahwa jika ada yang tidak beres dalam rumah tangga, pemimpinnya lah yang perlu dikoreksi.

Sahabat Ummi, alasan Ummi membahas permasalahan ini adalah karena melihat fakta bahwa banyak suami yang di tengah perjalanan biduk pernikahan malah terpikat wanita lain, dan kemudian menyalahkan istri karena tak pandai merawat diri dan kecantikan.

Padahal jika ditelusuri, bagaimana mungkin istri bisa merawat dirinya jika suami tak mau bergantian menjaga anak, mengurus pekerjaan rumah, dan juga tak bersedia mengalokasikan dana agar istri bisa berbenah diri.

Semoga tulisan ini bisa memberi solusi bagi pasutri untuk saling menambah kecintaan dan memperkuat kasih sayang. Aamiin.

Mudah-mudahan Bermanfaat yaaa.. 

sumber: ummi-online.com

Rabu, 23 Maret 2016

Untuk Wanita

Wanita memiliki peranan yang sangat penting. Kesuksesan dalam membangun bangsa, termasuk keluarga, ternyata tidak lepas dari peranannya.
Sehingga, tidak salah jika dikatakan wanita (ibu) merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sebab, wanita adalah sebagai pemimpin di rumah suaminya (HR Bukhari). 


Karena strategis dan pentingnya peranan wanita bagi kehidupan, Islam memberikan pesan-pesan khusus untuk kaum wanita melalui Alquran dan hadis Nabi SAW. 

Pertama, Alquran memerintahkan kepada kaum wanita untuk menahan pandangan, memelihara kemaluan, tidak menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak daripadanya, menutupkan kain kudung ke dadanya, dan tidak menampakkan perhiasan (QS an-Nur [24]: 31). 

Kedua, Alquran memerintahkan kepada para sahabat Nabi SAW, apabila meminta suatu keperluan kepada istri-istri Nabi SAW, hendaknya memintanya dari belakang tabir. Dan cara seperti itu yang akan dapat menjaga suasana hati (QS al-Ahzab [33]: 53). 

Ketiga, Alquran memerintahkan kepada kaum wanita untuk menutup aurat. Allah SWT berfirman, “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.''

Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal. Karena itu, mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Ahzab [33]: 59). 

Selain Alquran, Nabi Muhammad SAW juga memberikan pesan khusus kepada kaum wanita melalui sabdanya. Pertama, wanita sebagai perhiasan terbaik.
Rasulullah SAW bersabda, “Dunia ini adalah perhiasan/kesenangan dan sebaik-baik perhiasan/kesenangan dunia adalah wanita yang salehah.” (HR Muslim, Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ahmad). 

Kedua, wanita (yang salehah) memiliki ciri-ciri khusus. Sabda Nabi SAW, “Siapakah wanita yang paling baik?” Beliau menjawab, '(Sebaik-baik wanita) adalah yang menyenangkan (suaminya) jika ia melihatnya, menaati (suaminya) jika ia memerintahnya, dan ia tidak menyelisihi (suaminya) dalam hal yang dibenci suami pada dirinya dan harta suaminya.“ (HR Ahmad, Hakim, Nasa'I, dan Thabrani). 

Ketiga, pemahaman agama sebagai ukuran dalam kesalehahan wanita. Nabi SAW bersabda, “Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, kecantikannya, dan karena agamanya; maka pilihlah yang memiliki agama maka engkau akan beruntung.” (HR Bukhari dan Muslim). 

Keempat, wanita sebagai mitra kaum laki-laki dalam berbagai hal, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya kaum wanita adalah mitra bagi kaum laki-laki.” (HR Tirmidzi). 

Kelima, wanita sebagai seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya. Hal ini ditegaskan melalui sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya seorang wanita akan menjadi lebih dekat kepada Allah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (HR Thabrani). 

Itulah sebagian pesan Islam terhadap kaum wanita. Semoga Allah membimbing kita para wanita agar dapat menjalankan pesan mulia tersebut dan meraih kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Amin. 
Red: Damanhuri Zuhri
Oleh: Hj Siti Mahmudah 

Jumat, 27 Maret 2015

Shalat Ketika Makanan Sudah Dihidangkan

Shalat sebaiknya dilaksanakan dengan penuh khusyu’ dan dengan hati yang sepenuhnya hadir menghadap Allah SWT. Syariat Islam yang mulia pun menganjurkan untuk menghilangkan semua sebab yang dapat mengganggu ke-khusyu’-an shalat kita, di antaranya adalah adanya nafsu dan kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Sehingga hati dan pikiran kita pun disibukkan dengannya ketika mendirikan shalat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk mendahulukan menyantap makanan yang sudah terhidangkan meskipun shalat hampir ditegakkan.
Shalat Ketika Makanan Sudah Dihidangkan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَحَضَرَ العَشَاءُ، فَابْدَءُوا بِالعَشَاءِ
Jika shalat hampir ditegakkan (iqamah sudah dikumandangkan, pen.), sedangkan makan malam telah dihidangkan, maka dahulukanlah makan malam.” (HR. Bukhari no. 5465 dan Muslim no. 557)
Sebagian orang salah sangka dengan hadits di atas. Mereka menyangka bahwa kalau mendahulukan makanan, maka hal ini berarti kita lebih mendahulukan hak makhluk di atas hak Allah Ta’ala. Padahal hakikatnya, jika seseorang mendahulukan shalat dibandingkan makanan, maka hatinya akan disibukkan untuk memikirkan makanan ketika sedang shalat, sehingga berakibat mengurangi kesempurnaan shalatnya di hadapan Allah Ta’ala. Oleh karena itu, dianjurkan untuk mendahulukan menyantap makanan demi menjaga hak Allah Ta’ala ketika shalat.

Yang menjadi permasalahan adalah apakah hadits di atas bisa diamalkan secara mutlak, artinya kita mendahulukan menyantap makanan dalam semua kondisi? Terdapat beberapa persyaratan yang disebutkan oleh para ulama sehingga kita bisa mengamalkan hadits di atas.
1.      Ketika seseorang memang membutuhkan untuk makan dan minum, misalnya dalam kondisi perut yang sangat lapar. Adapun jika tidak dalam kondisi lapar, maka tetap mendahulukan shalat.

2.      Jika waktu shalat masih longgar. Sehingga ketika seseorang makan minum terlebih dahulu, dia masih bisa melaksanakan shalat pada waktunya. Apabila waktu shalat hampir habis, maka dalam kondisi demikian ini yang didahulukan adalah mengerjakan shalat pada waktunya, dalam kondisi apa pun. Karena anjuran (untuk meningkatkan ke-khusyu’-an) tidaklah dapat menggugurkan kewajiban (melaksanakan shalat pada waktunya).

3.      Seseorang tidak bersengaja menjadikan waktu makan dan minum bertepatan dengan waktu shalat sebagai sebuah kebiasaan yang dilakukan secara rutin dan terus-menerus. Oleh karena itu, di antara kebiasaan generasi awal dahulu adalah menyantap makan malam sebelum waktu shalat maghrib tiba atau di akhir waktu shalat ashar.

4.      Makanan yang ada mungkin bisa dikonsumsi secara syar’i ataupun secara realita. Secara syar’i misalnya orang tersebut tidak sedang berpuasa wajib, seperti Puasa Ramadhan. Jika tiba waktu ashar dan makanan untuk berbuka puasa sudah siap, maka tidak boleh menunda shalat ashar demi menunggu makan. Karena secara syar’i memang belum waktunya berbuka puasa, meskipun perut mungkin sudah sangat lapar. Demikian juga secara realita, misalnya makanan masih sangat panas dan perlu menunggu beberapa saat untuk bisa disantap, maka dalam kondisi demikian ini yang didahulukan adalah melaksanakan shalat. Juga misalnya makanan itu bukan miliknya, dan dia tidak diperbolehkan untuk menyantapnya karena sebab tertentu.

5.      Makanan tersebut sudah siap disantap, bukan masih diracik atau masih dimasak. Oleh karena itu, ketika makanan belum siap disantap, maka tetap mendahulukan shalat, meskipun dia dalam kondisi lapar. Karena sibuknya hati seseorang untuk memikirkan makanan yang sudah siap disantap itu lebih besar daripada jika makanan belum siap disantap.

Referensi:Fathu Dzil Jalali wal Ikraam bi Syarhi Buluughil Maraam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Madarul Wathon Riyadh KSA, cetakan ke dua, tahun 1434.Syarh ‘Umdatul Ahkaam, Syaikh Dr. Sa’ad bin Naashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syatsri, Kunuuz Isbiliya Riyadh KSA, cetakan pertama, tahun 1429.Taisiirul ‘Allaam Syarh ‘Umdatul Ahkaam, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al-Bassaam, Maktabah Al-Asadiyyah Makkah KSA, cetakan pertama, tahun 1433.

Senin, 09 Maret 2015

Busana Muslim, Antara Gaya dan Akidah

Yuli Rizcawati, manajer komunikasi sebuah perusahaan retail busana impor, selama Ramadan ini punya penampilan berbeda. Dulu, setiap bertemu dengan klien, perempuan setengah baya berparas manis tersebut selalu mengenakan busana seksi dengan rok pendek, kemeja tanpa lengan, atau dalaman model kemben berpadu blazer. Kini, ia lebih banyak mengenakan celana panjang, kemeja, atau atasan berlengan panjang dan sesekali memakai tunik. Rambutnya yang dulu hitam terurai sekarang tertutup kerudung, meski belum dengan jilbab secara keseluruhan.
Busana Muslim, Antara Gaya dan Akidah


"Ramadan begini, aku seperti mendapat hidayah untuk memperbaiki penampilan. Tidak lagi berbusana seksi terbuka, tapi mulai tertutup. Aku ingin berbusana sesuai kaidah atau aturan Islam, namun di sisi lain tetap ingin gaya. Semuanya mesti perlahan, tidak bisa drastis," ujar Yuli.

Lain lagi dengan cerita model senior Henidar Amroe yang kini berkerudung. Keputusannya berbusana tertutup, selain menjalankan perintah berbusana sesuai dengan pakem, didasari landasan syar'i atau kaidah tentang busana yang disunahkan Nabi Muhammad SAW.

"Dengan berbusana muslim, setidaknya secara pribadi ingin lebih baik lagi. Di sisi lain, saya tetap bisa gaya karena busana muslim sekarang beragam dan fashionable," ujar Henidar yang bermain di sinetron Para Pencari Tuhan.

Sebelum turun perintah memakai jilbab bagi perempuan, mereka mempunyai kebiasaan memakai kerudung, yaitu penutup kepala yang diuraikan ke punggung hingga leher dan kedua bagian telinganya terbuka. Gangguan sering menimpa para perempuan ini sepulang dari kerja di kebun kurma.

Surat Al-Ahzab ayat 59 berbunyi, "Wahai Nabi, katakanlan kepada para istrimu dan anak-anak perempuanmu, serta para perempuan mukmin agar mereka mengulurkan jilbabnya. Sebab, yang demikian itu akan membuat mereka lebih mudah dikenali sehingga terhindar dari perlakuan tidak sopan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang."

Selain surat tersebut, ada banyak lagi surat dan hadis yang menguatkan penggunaan jilbab dan busana tertutup ini. Di Indonesia, awalnya penggunaan jilbab atau busana muslim tidak terlalu dikenal. Sejak zaman dulu, biasanya hanya selendang yang diletakkan di atas kepala untuk menutupi rambut dan sanggul atau selendang yang disampirkan ke pundak. Pemakainya biasanya para perempuan

"Berbusana menurut Islam harus sesuai kaidah atau aturan, tapi yang saya perhatikan kini busana muslim memiliki banyak pilihan dan mengikuti perkembangan mode. Enggak apa-apa bergaya, asalkan sesuai kaidah," ujar Ustad K.H. Zuhri Yacub.

Menurut Ketua Tanfidz Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Jakarta Barat ini, selama berbusana muslim tidak mengabaikan landasan etika, yakni kaidah atau aturan tadi, maka beragam gaya dan pilihan merupakan hal yang wajar.

Sementara itu, Ida Royani, mantan artis dan penyanyi 1970-an, tercatat sebagai salah satu pelopor dan perancang busana muslim. Bukan sekadar baju longgar, Ida pun merancang busana modern yang dibuat berdasarkan ilmu agama yang dipelajarinya. "Orang melihat apa yang saya pakai aneh, apalagi saat pesta tidak ada satu orang pun yang memakai baju muslim," ujarnya.

Ida mengisahkan, pada awal 1980-an, ia tak sekadar mengenakan baju muslim untuk dirinya sendiri, tapi juga menjual rancangannya ke berbagai mal. Selain busana muslim untuk perempuan, dia juga merancang baju koko, busana muslim pria. Dengan faktor figur publik, setiap busana yang Ida kenakan berpengaruh terhadap khalayak. Pada pertengahan 1980-an, melalui rancangan dan rutin mengikuti berbagai peragaan busana, dia kembali menjadi sorotan media internasional.

Kini, tak dimungkiri bahwa busana muslim dikenal luas. Para perancangnya melihat peluang ini sebagai bisnis yang berkembang pesat. Seperti di Pasar Tanah Abang, kita bisa menjumpai aneka busana ini dengan berbagai pernak-pernik dan duplikasi. Bahkan, Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia memiliki divisi busana muslim untuk menampung ide-ide para perancangnya.

Amy Atmanto, perancang dan pemilik butik Royal Kaftan, mengatakan busana muslim kini fashionable. "Yang perlu diingat, landasan atau kaidahnya. Soal gaya boleh saja, asalkan sesuai pakemnya tadi," kata Amy yang percaya bahwa busana muslim mencuri perhatian kalangan nonmuslim, seperti busana panjang bersiluet longgar yang bisa dikenakan sebagai busana pesta koktail dan jamuan makan malam.

Adapun perspektif muslimah dengan busana jadul (zaman dulu) dan konvensional mulai terkikis oleh ragam busana muslim dengan modifikasinya. Sekarang, menjadi muslimah yang cantik, berbusana fashionable, dan lebih bergaya, tapi tetap sesuai dengan kaidah, bisa dilakukan kapan dan di mana saja. Astri Ivo menunjuk Ida Royani sebagai pionir busana muslim modern. "Dia (Ida) membuat busana dengan ilmu agama dan tetap indah," ujar Astri, mantan bintang cilik.

Astri yang kini berkerudung melihat busana muslim sudah menjadi fenomena dan budaya mode. Menurut dia, busana muslim, apa pun modelnya, tetap harus memenuhi kaidah, tidak memperlihatkan lekuk tubuh, tidak tipis atau menerawang, tidak menyerupai laki-laki, serta yang paling penting menutup aurat, kecuali muka dan telapak tangan. "Apa pun modelnya, kalau sudah memenuhi syariah, silakan saja," ujar Astri yang kini aktif mensiarkan tentang jilbab.

Menurut dia, perkembangan busana muslim dan kerudung sangat pesat sejak 1980-an. Mulai kerudung segi panjang hingga bergerak pada era bergo yang biasa dikenakan saat umrah atau naik haji. Bergo yang santai dan simpel yang semula dipakai untuk ke masjid saat umrah atau haji justru menjadi mode.

Setelah itu, mulai muncul mode dengan modifikasi tali dan bunga-bunga. Belakangan, muncul era pasmina dan aneka lilitan ala kerudung Timur Tengah. Dalam dua-tiga tahun ini, busana muslim dan kerudung semakin beragam dan banyak pilihan. Menurut Astri, modifikasinya semakin banyak dan orang tidak takut melakukan padu padan. 

HP | DIAN YULIASTUTI | BERBAGAI SUMBER

Senin, 02 Maret 2015

Khilafah Itu Tidak Ada Ikhtilaf

“Sesungguhnya Allah Ta’ala memberikan wewenang kepada penguasa untuk menghilangkan sesuatu yang  tidak bisa dihilangkan oleh Al Quran.” (Utsman bin Affan)

Menarik bila kita mencermati penulis barat Michael H. Hart dalam bukunya  “The 100 – a Ranking of Most Influential People in History”. Dalam bukunya dia menilai Nabi Muhammad dengan kalimat “he was the only man in history who was supremely succesfull on both the religious and secular level”. Dan kita bisa meihat alasan mengapa ia menempatkan Nabi Muhammad saw. dalam urutan paling atas sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah walaupun dia jumlah ummat muslim bukanlah yang paling banyak di dunia. Hart menuliskan dua alasan:
“Muhammad, however, was responsible for both the theology of Islam and its main ethical and moral principles”
“Furthermore, Muhammad (unlike Jesus) was a secular as well as a religious leader. In fact, as the driving force behind the Arabs conquest, he may well rank as the most influential political leaders of all time”
Dengan gamblang Hart menjelaskan, bahwa mengapa nabi Muhammad saw, ditempatkan sebagai tokoh paling berpengaruh, yaitu bahwa rasulullah menjadikan Islam, al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai satu-satunya pengatur, baik dalam kehidupan spiritual maupun dalam kehidupan politik. Inilah realitas Islam pada zaman rasulullah, tidak terpisahkan antara spiritual dengan politik.
Sayangnya, Islam yang dicontohkan nabi Muhammad yang menyatu dalam kedua sisi baik politis dan spiritual ini kebanyakan tidak dipahami dengan oleh masyarakat. Bahkan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai sumber pengetahuan Islam pun menganggap bahwa ide bersatunya politik dan spiritual Islam bukan berasal dari khazanah ilmu Islam. Bahkan berkembang diantara kaum muslim pernyataan di dalam Bibel: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”(Mat 22:21 ). Tampaknya sekularisme telah sukses merasuk kedalam jiwa ummat Islam, menjadikan ummat memandang bahwa Islam hanyalah pengatur ibadah ansich dan akhirnya membuat ummat berdalil dengan hujjah yang bukan merupakan dari al-Qur’an dan as-Sunnah, bukanlah dari shahabat maupun para ilmuwan Islam.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS an-Nisaa [4]: 58-59)
Dalam tafsirnya Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat 58 ini sangat jelas sekali ditujukan kepada para penguasa, yaitu penguasa kaum muslim:
وقوله ” وإذا حكمتم بين الناس أن تحكموا بالعدل” أمر منه تعالى بالحكم بالعدل بين الناس ولهذا قال محمد بن كعب وزيد بن أسلم وشهر بن حوشب إن هذه الآية إنما نزلت في الأمراء يعني الحكام بين الناس
Dan Jalalain dalam tafsirnya atas ayat 59 menegaskan bahwa ulil amri yang dimaksud adalah para wali yang merupakan empunya urusan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي” أصحاب ” الأمْرِ” أي الولاة ” مِنْكُمْ”
Artinya kedua ayat ini menunjukkan kewajiban yang sangat besar bagi kaum muslim untuk memiliki pemimpin dan kepemimpinan yang dengannya bisa diterapkan amanat hukum Allah dengan adil, dan menjadi penjamin atas dipakainya al-Qur’an dan as-Sunnah ketika ada perselisihan diantara kaum mukmin. Oleh karena itu, surat An Nisa ayat 58-59 ini telah dijadikan landasan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menulis kitabnya السياسة الشرعية في إصلاح الراعي و الرعية.
Rasulullah pun telah memberikan batasan, bagaimana penguasa dan kepemimpinan ini diatur dalam Islam melalui lisannya yang mulia:
“كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ”
قَالُوا “فَمَا تَأْمُرُنَا” قَالَ “فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ. أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ” (روه بخاري و مسلم)
Dahulu Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para Nabi. Setiap satu Nabi meninggal, digantikan oleh Nabi berikutnya. Sesungguhnya tidak ada Nabi sesudahku. Tetapi nanti akan ada banyak khalifah. Para Sahabat bertanya,  ”Apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab, “Penuhilah baiat yang pertama, dan yang pertama saja. Berikanlah hak mereka, sesungguhnya Allah akan memintai pertanggungjawaban terhadap urusan yang dibebeankan kepada mereka” (HR Bukhari dan Muslim)
Lafadz تسوسهم  berasal dari kata ساس – يسوس – سياسة yang berarti الرعاية الشـؤون menunjukkan bahwa para rasul Allah memimpin kaummnya dan mengatur urusan mereka menggunakan apa yang telah diturunkan Allah kepada mereka. Dan Rasul memberi sendiri nama penggantinya dalam masalah kepengurusan ini yaitu dengan menggunakan kata  خلفاء yang merupakan jamak dari kata خليفة. Maka nama kepemimpinan Islam ini adalah خلافة Selain itu hadits rasul juga mengindikasikan bahwa adanya khalifah ini adalah hanya satu untuk seluruh kaum muslim di dunia dengan kalimat:
فُوا ببيعة الأول فالأول.
Juga berdasarkan sabda Rasulullah saw:
إذا بويع لخليفتين فاقتلوا الأخر منهما (روه مسلم)
Dalil wajibnya berada dalam kepemimpinan Khilafah Islam juga ditandai dengan ancaman rasulullah kepada mukmin yang tidak berada atau melepaskan diri dari bai’at atau melalaikan diri dalam mengadakan kepemimpinan ini:
مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلا حُجَّةَ لَهُ , وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ ميْتَةً جَاهِلِيَّةً (روه مسلم)
Oleh karena itu, tuduhan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab ketika mengatakan bahwa Khilafah Islam tidak memiliki akar yuridis dan teologis yang jelas di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah sangat tidak beralasan apabila kita melihat dalil-dalil diatas, dan masih banyak dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah yang serupa dengannya. Tak kurang dari Imam asy-Syafi’i, Imam al-Jashash, dan Imam Ibnu  al-‘Arabi membuat kitab tafsir khusus membahas ayat-ayat hukum, dengan judul yang sama: أحكام القرآن. Para imam ahli hadits pun telah membuat pembahasan  dalam kitab mereka bab khusus tentang kepemimpinan dan hak-hak yang terkait dengan wewenang pemimpin. Imam Bukhari dalam جمع صحيح membuat كتاب الحدود, كتاب الديات, juga كتاب الإحكام yang membuat bab-bab tentang الإمامة dan الإمارة. Begitu pula Imam Muslim, dalam kitab جمع صحيح membuat كتاب الإمارة, juga كتاب الحدود.
Buku-buku yang telah ditulis mengenai sistem kepemimpinan dalam Islam pun telah ditulis oleh para pemikir dan ulama muslim. Misalnya Imam Abul Hasan al-Mawardi menyusun kitab  الأحكام السلطانية. Begitu pula Imam Abu Ya’ala dengan judul sama. Imam Ibnu Taimiyah menyusun  السياسة الشرعية. Imam Ibnul Qayyim menyusun kitab لطرق الحكمية . Imam As Suyuthi menyusun kitab تاريخ الخلفاء. Ibnu Syidad menyusun kitab النوادر السلطانية, lain sebagainya.
Hal ini menunjukkan bahwa  Islam tidak bisa dipisahkan dengan kepemimpinan dan politik. Adanya karya-karya ini serta perhatian para ulama muslim sejak masa lalu dan tertulis dalam literatur klasik membuktikan bahwa memang keterkaitan antara Islam dan Negara adalah memang ada. Sebab, adalah hal mustahil para imam ini membicarakan sesuatu yang sia-sia, yang tidak pernah  terjadi dalam Islam dan dunianya. Dia dibicarakan karena dia ada. Hakikat ini sangat jelas bagi orang-orang yang berakal.
Tidak hanya menulis buku-buku yang menegaskan perlunya kepemimpinan bagi kaum muslim. Ulama-ulama besar juga memberikan pernyataan tentang urgensi penegakan kepemimpinan ini terkait dengan pelaksanaan hukum-hukum Allah secara totalitas. Misalnya, ketika membaca ayat:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa (QS al Hadiid [57]: 25)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam مجموع الفتاوى mengomentari ayat ini dengan mengatakan:
فَبَيَّنَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَّهُ أَنْزَلَ الْكِتَابَ وَأَنْزَلَ الْعَدْلَ وَمَا بِهِ يُعْرَفُ الْعَدْلُ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلَ الْحَدِيدَ .
فَمَنْ خَرَجَ عَنْ الْكِتَابِ وَالْمِيزَانِ قُوتِلَ بِالْحَدِيدِ
“Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan, bahwa Dia menurunkan Al Kitab dan neraca keadilan, dan apa-apa yang dengannya keadilan itu bisa diketahui, agar manusia dapat menegakkan keadilan itu, dan Dia juga menurunkan besi. Barangsiapa yang telah keluar dari Al Quran dan Neraca, maka dia diluruskan oleh besi (pedang/kekuataan).”
Beliau  juga berkata dalam السياسة الشرعية
يجب أن يعرف أن ولاية أمر الناس من أعظم واجبات الدين بل لا قيام للدين ولا للدنيا إلا بها . فإن بني آدم لا تتم مصلحتهم إلا بالاجتماع لحاجة بعضهم إلى بعض ، ولا بد لهم عند الاجتماع من رأس حتى قال النبي صلى الله عليه وسلم :
« إِذَا خَرَجَ ثَلاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ » . رواه أبو داود ، من حديث أبي سعيد ، وأبي هريرة .
وروى الإمام أحمد في المسند عن عبد الله بن عمرو ، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : « لا يحلُّ لِثَلاثَةٍ يَكُونُونَ بِفَلاةِ مِن الأَرضِ إِلِّا أَمرُوا عَلَيهِم أَحَدَهُم » . فأوجب صلى الله عليه وسلم تأمير الواحد في الاجتماع القليل العارض في السفر ، تنبيها بذلك على سائر أنواع الاجتماع . ولأن الله تعالى أوجب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ، ولا يتم ذلك إلا بقوة وإمارة . وكذلك سائر ما أوجبه من الجهاد والعدل وإقامة الحج والجمع والأعياد ونصر المظلوم وإقامة الحدود. لا تتم إلا بالقوة والإمارة
“Wajib diketahui bahwa kepemimpinan yang mengurus urusan manusia termasuk kewajiban agama yang paling besar, bahkan agama dan dunia tidaklah tegak kecuali dengannya. Segala kemaslahatan manusia tidaklah sempurna kecuali dengan memadukan antara keduanya,  di mana satu sama lain saling menguatkan. Dalam perkumpulan seperti inilah diwajibkan adanya kepemimpinan, sampai-sampai Nabi saw. mengatakan: ‘Jika tiga orang keluar bepergian maka hendaknya salah seorang mereka menjadi pemimpinnya.’” (HR Abu Dawud)
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dari Abdullah bin Amru, bahwa Nabi saw. bersabda: “Tidak halal bagi tiga orang yang berada di sebuah tempat di muka bumi ini melainkan mereka menunjuk seorang pemimpin di antara mereka”. Rasulullah mewajibkan seseorang memimpin sebuah perkumpulan kecil dalam perjalanan, demikian itu menunjukkan juga berlaku atas  berbagai perkumpulan lainnya. Karena Allah Ta’ala memerintahkan amar ma’ruf dan nahi munkar, dan yang demikian itu tidaklah sempurna melainkan dengan kekuatan dan kepemimpinan. Demikian juga kewajiban Allah lainnya seperti jihad, menegakkan keadilan, haji, shalat jumat dan hari raya, menolong orang tertindas, dan menegakkan hudud. Semua ini tidaklah sempurna kecuali dengan kekuatan dan kepemimpinan.

Juga seperti perkataan Ibnu Qayyim al-Jauziah dalam لطرق الحكمية
فَلَا يُقَالُ : إنَّ السِّيَاسَةَ الْعَادِلَةَ مُخَالِفَةٌ لِمَا نَطَقَ بِهِ الشَّرْعُ ، بَلْ هِيَ مُوَافِقَةٌ لِمَا جَاءَ بِهِ ، بَلْ هِيَ جُزْءٌ مِنْ أَجْزَائِهِ ، وَنَحْنُ نُسَمِّيهَا سِيَاسَةً تَبَعًا لِمُصْطَلَحِهِمْ ، وَإِنَّمَا هِيَ عَدْلُ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، ظَهَرَ بِهَذِهِ الْأَمَارَاتِ وَالْعَلَامَاتِ
“Maka, tidaklah dikatakan: sesungguhnya politik yang adil itu bertentangan dengan yang dibicarakan syariat; justru politik yang adil itu bersesuaian dengan syariat, bahkan dia adalah bagian dari elemen-elemen syariat itu sendiri. Kami menamakannya dengan politik karena mengikuti istilah yang mereka buat. Padahal itu adalah keadilan Allah dan RasulNya, yang ditampakkan tanda-tandanya melalui politik.”

Dan perumpamaan Imam al-Ghazali dalam احياء علوم الدين
فإن الدنيا مزرعة الآخرة، ولا يتم الدين إلا بالدنيا. والملك والدين توأمان؛ فالدين أصل والسلطان حارس، وما لا أصل له فمهدوم، وما لا حارس له فضائع، ولا يتم الملك والضبط إلا بالسلطان
“Sesungguhnya dunia adalah ladang bagi akhirat, tidaklah sempurna agama kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar; agama merupakan  pondasi dan penguasa adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang. Dan tidaklah sempurna kekuasaan dan hukum kecuali dengan adanya pemimpin.”

Senada dengan itu, Ibnu Khaldun menegaskan dalam مقدمة
والخلافة هي حمل الكافة على مقتضى النظر الشرعي في مصالحهم الأخروية والدنيوية الراجعة إليها، إذ أحوال الدنيا ترجع كلها عند الشارع إلى اعتبارها بمصالح الآخرة، فهي في الحقيقة خلافة عن صاحب الشرع في جراسة الدين وسياسة الدنيا به. فافهم ذلك واعتبره فيما نورده عليك، من بعد. والله الحكيم العليم
“Khilafah adalah upaya langkah membawa manusia ke arah yang sesuai pandangan syariat dalam mencapai maslahat kehidupan mereka baik akhirat dan dunia. Karena seluruh maslahat dunia ini menurut syariat Islam akan  bermuara pada maslahat akhirat. Pada hakikatnya khilafah itu berasal dari Pemilik Syariat dalam rangka menjaga agama dan mengatur dunia. Maka fahamilah dan ambilah pelajaan dari hal itu sepanjang yang kami sampaikan kepadamu. Dan Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”

Telah berkata pula Imam al-Mawardi dalam الأحكام السلطانية
عقد الامامة لمن يقومُ بها في الأمة واجب بالاجما
“Mengangkat Imam (Khalifah) bagi yang menegakkanya ditengah-tengah umat merupakan kewajiban berdasarkan ijma’”

Juga Imam Nawawi dalam شرح صحيح المسلم
أَجمعوا عَلَى اَنَّهُ يَجِب عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ نَصْب خَلِيْفَة
“Mereka (para Imam Madzhab) sepakat wajib bagi kaum muslimin mengangkat Khalifah”
واتفق العلماء على أنه لا يجوز أن يعقَدَ لخليفتين في عصر واحد سواء اتسعت دار الإسلام أم لا
“Telah sepakat para ‘ulama bahwa tidak boleh diangkat dua orang khalifah dalam waktu yang sama, sama saja apakah Darul Islam itu luas atau tidak”

اتفق الأئمة رحمهم الله تعالى على أن الإمامة فرض، وأنه لا بد للمسلمين من إمام يقيم شعائر الدين وينصف، المظلومين من الظالمين، وعلى أنه لا يجوز أن يكون على المسلمين في وقت واحد في جميع الدنيا إمامان
telah sepakat para Imam Madzhab semoga Allah merahmati mereka tentang kewajiban imamah (khilafah), oleh karena itu haruslah ada bagi kaum muslimin seorang Imam yang menegakkan ritual agama dan keadilan, orang yang didzalimi dari para pendzalim,  dan tidak boleh bagi kaum muslimin dalam waktu yang sama di seluruh dunia terdapat dua imam”
Demikianlah, dapat kita lihat bahwa ulama-ulama dan cendekiawan muslim semuanya telah menegaskan tentang wajibnya khilafah (kepemimpinan) bagi kaum mukmin. Semua itu bukanlah dilakukan karena kaum muslim haus akan kekuasaan dan menyalahgunakannya untuk menindas serta memperkaya diri sebagaimana kita lihat saat ini, tetapi lebih karena tuntutan aqidah sebagai seorang muslim dan keinginan untuk melaksanakan ajaran Islam secara kaaffah sebagaimana Rasulullah contohkan kepada kita. Dan semua ini tidak akan sempurna tanpa hadirnya suatu kepemimpinan yang menjaminnya.
Jadi Khilafah itu benar-benar tidak ada, tidak ada ikhtilaf :)

sumber :felixsiauw.com

Sabar dan Ikhlas yang berkawan

Dear Diary…
Sabar dan Ikhlas yang berkawan
Sabar dan Ikhlas yang berkawan

Sabar itu nggak bertepi…Ikhlas itu nggak berujung. Itu bener banget….karena hidup selalu penuh ujian, karena sebagai manusia yang mendapat ujian, kita wajib “Sabar”, “Ikhlas ” atau “Semua pasti ada hikmahnya”, ya kaan…
Sebenernya sih saya sebeel banget dengan 3 kalimat itu. Karena ini susah dikerjainnya… Nggak semudah yang kita bayangkan.
Tapi setelah saya menyadari, ya memang begitulah cara semua orang dibentuk. Seperti menjadi gelas yang kosong, sehingga kita selalu bisa menerima air yang masuk ke dalam cangkir kita. Kemudian kita meminumnya dan merasakannya.. Kadang terasa manis, kadang terasa mual, kadang juga terasa asiiin banget.
Kenapa kita dikasih ujian, kenapa kita dikasih cobaan atau kenapa kita harus melewati kesalahan – kesalahan itu. Karena itu semua untuk melatih kesabaran kita dan melatih keikhlasan kita. Apapun itu, sesuatu yang masuk ke tubuh kita, akan menyatu, akan bersama kita selamanya. Dan pada akhirnya kita akan bisa berbagi pengalaman kita dengan orang lain. InsyaAllah…Kita nggak akan pernah tahu rahasia-rahasia dalam kehidupan ini. (dewi.S)

Minggu, 01 Maret 2015

Lihat Keindahan Islam

Ah, rasa-rasanya kamu semua bakalan tunjuk jari nih kalo ditanya, “Siapa yang pengen masuk surga?”. Betul? Iya deh, ngaku aja, nggak usah malu-malu (apalagi sampe malu-maluin!). Banyak orang ingin masuk surga kok. Jangankan kaum muslimin, orang kafir dan orang musyrik pun sangat antusias ingin masuk surga (tentu surganya sesuai definisi dan pemahaman mereka, atau jangan-jangan bukan surga yang didapat, tapi neraka buat mereka?). Kalo gitu, surga untuk semua dong? Ah, jangan nebak-nebak en berprasangka gitu. Begini deh, meski banyak orang ingin masuk surga, dan dengan jalan yang berbeda-beda, tapi hakikatnya surga cuma untuk orang-orang yang beriman. Buat yang nggak berimanmah harap ‘dipersori' aja, surga bukan jatah mereka tuh.
Lihat Keindahan Islam
Lihat Keindahan Islam


Sobat muda muslim, ibarat orang yang akan bepergian, maka tentu saja kudu punya bekal dan peta atau penunjuk jalan yang memadai. Kalo nggak? Bisa kehabisan bekal dan mungkin tersesat jalan. Rugi dan malah membahayakan banget kan?

Itu sebabnya, seperti halnya orang yang sedang menuju suatu tempat, maka panduan hidup kita di dunia ini juga kudu jelas. Supaya apa? Supaya terhindar dari salah jalan, dan tentunya hidup jadi lebih efektif karena sudah tahu peran kita di dunia ini. Nggak nyari-nyari posisi lagi atau nggak asal berbuat. Inilah pentingnya panduan hidup. Kalo nggak? Jangan salahkan orang lain kalo diri tersesat gara-gara nggak punya panduan dan nggak tahu jalan.

Kalo diri sendiri kebetulan nggak tahu jalan, maka bergandengan tangan dengan orang lain yang tahu jalan akan membantu kita mencapai tempat tujuan dengan aman. Tapi kalo ada orang yang buta jalan, tapi sok tahu itu namanya nekatz guys! Coba deh kalo ada orang yang, maaf, buta matanya, tapi begitu dituntun sama orang yang sehat matanya malah menolak, apalagi sampe ngomong, “Gua juga bisa, tahu!” Eh, benar saja, ternyata bisa kejebur tuh! (wong mata nggak bisa ngelihat, tapinekatz jalan sendiri tanpa panduan).

 Sebagai seorang muslim, sebenarnya kita udah punya panduan hidup yang oke punya. Kita punya “buku harian” yang “ajaib” banget, yakni al-Quran. Kalo kita baca setiap hari, dikaji setiap ada kesempatan, dan kita renungkan setiap kali selesai mengkajinya, ditambah dengan pengamalan yang mantep, bukan tak mungkin kita bisa menatap masa depan dengan mata yang terus berbinar, hati yang tenang, dan pikiran yang waras. Nggak bakalan was-was lagi, dan siap menghadapi segala risiko. Inilah pentingnya hidup, dan enaknya punya panduan dalam menjalaninya.

 Sobat muda muslim, kalo dalam karya fiksi kita mungkin pernah baca “Banyak Jalan Menuju Roma”, maka, kalo boleh nyontek dan kita plesetkan, sebenarnya banyak juga jalan menuju surga. Maksudnya banyak hal yang bisa mengantarkan kita ke surga. Asal semua amalan tersebut dilandaskan kepada ajaran Islam dan ikhlas melakukannya. Mudah kan? Nah, tunggu apalagi, kita pancangkan niat yang mantap dan hanya karena Allah Swt. kita berbuat. Bukan karena yang lain. Terus, sesuaikan juga dengan patokan ajaran Islam. Jangan lupa, tetap semangat lho. So, nggak usah ragu en nggak usah bimbang, apalagi takut.Mulai sekarang, kita bisa mulai untuk mencari jalan ke surga.Siap semua kan? Ayo jalan! (tapi lihat kanan kiri, entar nabrak lho! Hehehe…)

Jalan ke surga, mudah dan murah

Sobat muda muslim, ini bukan kampanye soal murah dan murahan. Nggak. Ngapain juga kita cuap-cuap kalo tanpa makna. Tul nggak? Insya Allah, ini sebagai gambaran bahwa jalan menuju surga itu nggak sulit, nggak pula mahal. Tapi sebaliknya mudah dan murah. Emang sih, kalo ukuran kita di dunia biasanya untuk bisa mendapatkan kenikmatan yang “wah”, kudu dibeli dengan harta yang banyak dan tentu saja agak sulit meraihnya. Kalo pengen naik pesawat yang pelayanannya oke punya, kita kudu keluar duit banyak dan tentunya membuat kita pusing, ribet dan ya boleh dibilang sulit. Tapi sodara-sodara, surga insya Allah mudah dan murah untuk didapatkan. Fasilitas “wah”, tapi harga murah dan caranya mudah.

Kenapa mudah dan murah? Kalo kamu ke mesjid, terus ngasih sedekah dengan memasukkan uang ke keropak amal yang disediakan, dan kamu juga ikhlas melakukannya, insya Allah berpahala, meski harta yang disisihkan jauh lebih murah dari harga semangkuk bakso. Oke?

Selain bersedekah dengan harta, kamu juga bisa bersedekah dengan senyuman.Wah, asyik juga neh bisa TP alias tebar pesona! Husss.. jangan sembarangan, nggak boleh nakal gitu ah! (luruskan niat ya). Nah, ngasih senyuman yang tulus ikhlas kepada teman-teman kita, insya Allah udah termasuk ibadah. Tentu saja, karena membuat hati dan pikiran saudara kita seneng kan bagian dari ibadah. Betul? Ehm, itu juga mudah dan murah kan?

Oya, selain bersedekah harta dan sikap yang enak dipandang mata, memaniskan wajah dengan penuh keikhlasan kepada siapa saja, ternyata jalan menuju surga bisa juga lewat baca al-Quran. Ih, asyik banget ya? "keindahan islam itu menyenangkan, mendamaikan hati" Inilah bedanya membacakalamullah dengan bacaan biasa. Kalo baca al-Quran dinilai pahala lho, bahkan setiap huruf yang dibaca pun mengandung bobot nilai yang besar. Beda dengan bacaan biasa, misalnya baca komik atau baca koran. Ada sih manfaatnya baca koran, yakni kita jadi tahu informasi, tapi nggak dapat pahala dari bacaan tersebut. Tuh, emang mudah dan murah jalan menuju surga itu kan?

Sobat muda muslim, baca al-Quran, lalu mengkaji dan memahaminya, (termasuk dalam hal ini belajar tentang Islam yang lainnya adalah beberapa jalan yang bisa mendapatkan pahala. Kalo udah bicara pahala, maka surga memang tempat mereka yang banyak pahalanya (sebagai ganjaran dari amal baiknya tentu).

Guys, sebagai tambahan dan penekanan, agar amal baik kita alias amal sholeh kita, bermakna dan bermanfaat, maka kudu dibarengi dengan keimanan dan ketakwaan. Karena amal sholeh (kebaikan) kalo nggak dilandasi dengan keimanan ketika berbuatnya maka akan dinilai sia-sia (ih, bener-bener kudu ati-ati deh!).

Jadi, memang mudah untuk bisa mendapatkan surga itu, cukup beriman dan beramal sholeh. Mudah dan murah kan? Beriman nggak perlu bayar dengan harta, karena memang keimanan nggak bisa dibeli dengan uang. Tapi keimanan bisa diraih dengan proses berpikir dan dengan niat yang kuat untuk mendapatkannya. Iman nggak bisa diperjualbelikan,Bro !

 Allah Swt,. berfirman:

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.”(QS al-Baqarah [2]: 25)

Tuh, jadi gembiralah wahai orang-orang yang beriman dan beramal sholeh (amal kebaikan). Soalnya, jaminannya surgaeuy! Nah, ladang beramal itu banyak banget sobat. Ngaji, itu salah satu ladang beramal kita. Meski ngaji itu mudah dan murah, tapi anehnya nggak sedikit yang ogah dateng ke pengajian. Jangankan nggak diundang untuk dateng ke pengajian, kita udah bela-belain ngajak dan ngasih surat undangan untuk hadir di pengajian pun, susahnya minta maaf tuh. Tapi, ketika di RW sebelah ada dangdutan digelar, eh, nggak diundang juga udah pada semangat datang (paling dulu dateng en paling depan nontonnya!). Tuing! Ati-ati sobat!

Sobat muda muslim, nggak usah takut dan nggak usah ragu dengan kebenaran Islam ini. Karena apa? Karena Allah pun sudah menjanjikan surga buat orang-orang yang beriman dan berpegang teguh dengan ajaran Islam ini.Nggak bakal goyah walau godaan datang silih berganti dan beragam. Ia tetep istiqomah dengan kebenaran Islam dan nggak luluh oleh gemerlap yang ditawarkan ajaran lain. Allah Swt. berfirman:

“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada (agama)Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dariNya (surga) dan limpahan karuniaNya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepadaNya.”(QS an-Nisaa' [4]: 175)

Subhanallah, sungguh pahala yang besar dan nikmat yang tiada taranya buat kita. Sayangnya, banyak juga di antara kaum muslimin yang nggak bisa dengan kuat berpegang teguh pada ajaran Islam. Mereka ada yang lebih memilih ke jalan yang sesat ketimbang petunjuk yang benar.

Eh, kok bisa sih? Begini ceritanya. Jabatan, kekayaan, dan status sosial, bisa menjadi tujuan seseorang dan untuk meraihnya, kadang rela mengorbankan idealisme yang selama ini diyakini dan diembannya. Bukan tak mungkin lho, demi meraih sebuah jabatan, atau menggenggam kekayaan, dan menyandang status sosial, orang bisa dengan mudah menggadaikan idealismenya, menjual akidahnya, dan menelantarkan keimanannya. Duh, ati-ati deh!

Tengok deh dalam kehidupan sekarang ini, ternyata banyak teman kita yang lebih memilih larut dalam gemerlap budaya pop yang datangnya dari Barat ketimbang bermesraan dan cinta ama budaya Islam. Atas nama modernisasi, misalnya, remaja muslim nggak sedikit yang berlomba tampil ala Barat; dandanan yang asal nyangkut di badan dan kagak mikir lagi apakah itu menutup aurat apa nggak, makanan yang nggak dilihat lagi apakah itu halal atau haram, bahkan dalam soal hiburan pun banyak teman kita yang menilainya dengan ukuran yang dibuat sendiri; yakni hiburan tersebut menyenangkan atau tidak diukur dari hawa nafsunya. Mereka nggak merhatiin apakah hiburan itu nyerempet-nyerempet dosa atau berbau maksiat, asal senang, “hajar aja bleh”. Gawat euy!

 Ke surga? Bareng Islam dong!

Sobat muda, biarlah orang kafir dan orang musyrik asyik berkhayal dan melamun tentang surga. Karena sejatinya mereka nggak punya peta yang benar untuk menuju surga. Cuma Islam yang punya peta yang benar.

Nggak percaya? Allah saja sudah menjanjikan bahwa, “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam”(QS ali Imran [3]: 19) . Berarti, ini sudah tertutup kemungkinan buat yang lain (kaum kafir dan kalangan musyrik) untuk bisa menuju surga. Kalo kataSheila on 7 mah , “berhenti berharap” deh! Hmm.. kasihan banget ya?

Duh, kita bukan ngeledekin atau menghina, karena memang faktnya demikian. Kita nggak bisa berbohong. Jujur saja, bahwa memang cuma Islam yang punya peta jalan menuju surga lengkap dengan berbagai cara untuk mendapatkannya.

Nah, masalahnya, kita sebagai umatnya justru belum sepenuhnya “ngeh” tentang persoalan ini. Udah diberi petunjuk, udah menyandang gelar muslim pula, eh masih aja hobi ngelakuin maksiat. Tulalit banget kan? Ngakunya muslim, tapi seks bebas jalan terus, pake narkoba doyan juga. Duh, gimana atuh bisa dapetin surga? Jangan sampe hidayah yang diberikan Allah kepada kita jadi sia-sia karena kita nggak pandai menjaganya. Karena kita lebih tergoda kehidupan lain yang sebenarnya cuma menawarkan kenikmatan sesaat, udah gitu sesat pula. Amit-amit deh!

Sobat, itu sebabnya, yuk kita bareng-bareng mengamalkan ajaran Islam ini. Kuatkan keimanan kita, dampingi dengan ilmu yang benar, dan hiasi dengan amal baik. Trio “iman, ilmu, dan amal” ini kudu hadir dalam kehidupan beragama kita. Insya Allah ini sebagai bekal mencari jalan ke surga.So , semoga nggak ada lagi teman remaja muslim yang nggak punya peta jalan menuju surga.


Biar mantep nih, yuk mulai ngaji aja deh, selain memenuhi perintah mencari ilmu, juga karena ngaji bisa bikin kita jadi berilmu, kita pun bisa tahu soal halal-haram. Semoga kita menjadi generasi yang beriman, bertakwa, dan ngerti betul apa yang harus kita lakukan untuk mencari jalan ke surga. Semoga pula kita bisa sama-sama “reuni” di surga, nggak ada salahnya jika kita bilang, “Kutunggu dirimu di surga”. Insya Allah. Semangat ya!(sausan)
 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
indahBLog