Social Icons

Pages

Minggu, 21 Desember 2014

Menikahlah Maka Engkau Kaya

menikahlah maka engkau kaya

Hujan deras mengguyur bumi Surabaya saat pasangan suami istri itu sampai di jalan tol. “Dulu kita pernah mau ke toko buku seperti ini akhirnya kembali pulang karena hujan ya Dik,” kata sang suami sambil menyetir.
“Iya Mas. Bukan hanya sekali, tapi beberapa kali,” sahut istrinya sambil tertawa mengenang peristiwa itu.

Waktu awal-awal menikah, mereka memang hanya punya sebuah motor ‘butut’. Itu pun hadiah dari orang tua. Jika lupa membawa jas hujan, mereka berteduh di tepi jalan saat hujan lebat menghadang. Bahkan sekalipun membawa jas hujan, jika perjalanan yang ditempuh cukup jauh, mereka bisa terhalang dan membatalkan rencana bepergian.

Ketika menikah, ikhwan tersebut hanya bergaji Rp 650 ribu. Seperti kebanyakan aktifis dakwah saat itu, mereka tidak terlalu berpikir tentang bagaimana bisa hidup layak setelah menikah. Mereka pun makan seadanya. Tempe, tahu; yang penting bisa makan. Dalam setahun, lebih dari tiga kali listrik rumah kontrakan mereka diputus sementara oleh PLN karena telat membayar.

Seiring bertambahnya usia pernikahan mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala menambah rezeki mereka. Karir sang suami meningkat cepat. Prosentase gajinya naik melebihi teman-temannya yang lebih lama bekerja di sana. Lalu di tahun keempat, ia pindah kerja dengan penghasilan yang lebih tinggi. Kemudian Allah memberinya kemudahan merintis bisnis.

Kini, pasangan suami istri itu telah memiliki rumah sendiri. Dua rumah; satu atas namanya, dan satu lagi atas nama istrinya. Allah juga memberi mereka kendaraan dan melipatgandakan penghasilan mereka puluhan kali lipat. Hingga suatu saat, ikhwan tersebut berkata kepada salah seorang personil bendahara harakah di daerahnya: “Sekarang berapa infak tertinggi ikhwah kita, dan saya masuk peringkat berapa? Saya ingin berinfak paling besar diantara seluruh ikhwah kita, semoga Allah mengabulkannya”

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur : 32)

Sungguh benar janji Allah: Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Jika mereka miskin, Allah yang akan membuat mereka jadi kaya.

Sebagai seorang mufassir yang sangat memahami Al Qur’an, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memberikan nasehat berlandaskan janji Allah ini: “Carilah kecukupan dalam nikah.” Jika engkau ingin cukup, ingin kaya, maka menikahlah.

Ketika menafsirkan ayat di atas, Ibnu Katsir menceritakan kisah seorang laki-laki yang tidak memiliki apa-apa selain sehelai sarung yang dikenakannya. Ketika menikah, ia tidak memiliki barang apapun yang bisa digunakannya sebagai mahar. Bahkan cincin besi pun tak bisa ia dapatkan. Lalu oleh Rasulullah ia disuruh memberikan mahar berupa mengajari istrinya ayat-ayat Al Qur’an yang telah dihafalnya. Qadarullah, setelah menikah ia dapat mencukupi nafkah untuk keluarganya.

Rasulullah mempertegas janji Allah terhadap orang yang menikah ini dalam sabdanya:

ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنُهُ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الْأَدَاءَ

“Ada tiga orang yang berhak mendapatkan pertolongan Allah Azza wa Jalla, yaitu orang yang berjihad di jalan Allah, orang yang menikah karena menghendaki kesucian, dan budak mukatab yang bertekad melunasi kebebasannya” (HR. An Nasa’i)

Pasangan suami istri di awal tulisan ini telah merasakan pertolongan Allah tersebut. Jika sebelum menikah mereka menerima pemberian dari orang tua. Kini dengan izin Allah, gantian mereka yang memberi kepada orang tua.

Jadi, adakah yang masih takut menikah karena alasan ekonomi? Semoga tidak lagi. Sebab, Allah-lah Sang Maha Pemberi rezeki.

sumber: keluargacinta.com

Minggu, 07 Desember 2014

Kisah Pejuang Keikhlasan Abdullah Bin Mubarak Dalam Jihad

Kisah Pejuang Keikhlasan Abdullah Bin Mubarak Dalam Jihad

Niat ikhlas bagi amal shalih ibarat ruh bagi jasad. Jika ruh lepas dari jasad maka ia akan mati. Begitu juga niat ikhlas, apabila hilang dari amal shalih, maka amal akan sia-sia. Dan yang dimaksud ikhlas adalah beramal untuk Allah semata.

Al-Fudhailbin ‘Iyadh berkata:

إِنَّ اْلعَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا أَنْ يَكُوْنَ عَلَى السُّنَةِ

“Sesungguhnya amal itu apabila ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima. Dan jika benar tetapi tidak ikhlas maka juga tidak akan diterima, hingga terdapat ikhlas dan benar. Dan ikhlas itu adalah karena Allah dan benar itu sesuai dengan sunnah.”

Jihad merupakan puncaknya amal Islam. Ibadah jihad tidak akan bernilai jika tanpa di sertai sebuah niat Ikhlas. Karena dengan ikhlas inilah amalan akan bisa diterima Allah Swt dan akan membuatnya terus menerus dalam amal Jihad.

Dahulu, Abdullah bin Mubarak pernah mengikuti sebuah peperangan. Ia merupakan seorang Ulama sekaligus Mujahid. Ia senantiasa menjaga keikhlasan. Bahkan ia senantiasa mengingatkan akan pentingnya menjaga keikhlasan ini.

Abdullah bin Mubarak berkata :

رُبَّ عملٍ صغيرٍ تعظِّمهُ النيَّةُ ، وربَّ عمل كبيرٍ تُصَغِّره النيَّةُ

“Berapa banyak amal yang kecil menjadi besar nilainya karena niat. Dan berapa banyak amal besar menjadi kecil nilainya dikarenakan niat.”

Kisah ini diceritakan oleh Muhammad bin Mutsanna. Ia berkata : “Kami diberitahu oleh Abdullah bin Sinaan” dia berkata : Dahulu aku pernah bersama-sama dengan Ibnul Mubarak dan Mu’tamar bin Sulaiman di Tharasus. Lantas ada orang-orang yang meneriakkan : “Ada pengerahan pasukan musuh”. (Siyaru A’laamin Nubalaa’ , VIII/408-409)

Melihat hal itu. Maka Ibnu Mubarak dan orang-orang keluar rumah. Ketika kedua kelompok sudah berbaris, tiba-tiba ada seorang berbangsa Romawi muncul. Dia mengajak kaum muslimin untuk berduel satu lawan satu. Ada seorang laki-laki dari kalangan muslim yang maju ke depan untuk memenuhi tantangan seorang kafir tersebut.

Akhirnya orang kafir itu bertempur sangat dahsyat sehingga berhasil membunuh seorang muslim yang menjadi lawan tandingnya. Dia terus saja menantang kaum muslimin satu persatu sehingga membabat enam orang muslim. Mulailah berlagak sombong diantara kedua kelompok dengan terus menantang berduel. Terang saja tidak ada seorang pun yang berani maju setelah itu.

Namun, Ibnul Mubarak menoleh kearahku dengan berbisik : “Wahai fulan, jika aku terbunuh nanti, maka lakukan begini dan begitu!”. Tidak lama kemudian beliau menggerakkan kudanya dan mengajak duel musuh yang sudah semakin congkak. Hampir satu jam mereka berduel yang berakhir dengan terbunuh orang kafir yang sombong itu.

Sekarang tiba giliran Ibnu Mubarak yang menantang duel dari pihak kafir. Tantangan itu disambut oleh orang kafir lain yang akhirnya kembali jatuh dibawah hunusan pedangnya. Beliau terus menantang orang kafir sampai akhirnya berhasil membunuh enam orang dari pasukan kafir.

Abdullah ibnu Mubarak terus mengajak musuh untuk berduel satu lawan satu. Namun, kelihatannya mereka mulai keder terhadap keperkasaan beliau.

Akhirnya beliau memukul kudanya dan menyingkir meninggalkan kedua kelompok yang sedang berhadapan. Beliau menghilang sehingga kita semua tidak lagi merasakan apa-apa. Ternyata aku menemukan beliau sudah berada ditempat kami semula.

Kisah ini menunjukkan kepada kita kaum muslimin betapa kuatnya Abdullah bin Mubarak. Disamping itu Ia juga menjaga keikhlasan dalam amal jihad. Ia berjihad bukan untuk mendapat pujian. Namun ia berjihad hanya meninggikan kalimat Allah.

sumber: An-najah.net
 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
indahBLog